Halaman

Rabu, 24 September 2008

Menggenggam asa yang luput

Jika kata tak lagi mengurai makna

Jika pertemuan tak lagi di anggap berarti

Jika harapan menjelma keputusasaan

Jika amanah menjadi luapan rutinitas

Apatah lagi yang harus dilakukan?


Saat persahabatan tak lagi di genggam

Saat semua ucap tak lagi mencipta nyaman

Saat wajah tak lagi berhias senyum

Saat hati tak lagi sejalan

Apatah lagi yang harus dikatakan?

Bila langit tak lagi bercerita

Bila bintang & bulan tak lagi beriring

Bila pelangi tak lagi berwarna ceria

Bila hujan tak lagi mencair aroma

Apatah lagi rasanya hidup?

Ketika usia semakin menuju lelah

Ketika rezeki semakin menghantui

Ketika perasaan semakin menguasai

Ketika tanggungan semakin terjawab

Apatah lagi yang harus dituntut?

Saat “terserah saya” terlontar, saat diri merasa tinggi

Saat “terserahlah deh” terlontar, saat diri merasa lemah

Saat “terserahlah“ terlontar, saat diri merasa putus asa

Saat “terserah! terserah! terserah! terlontar, saat diri tak lagi punya harapan

Apatah lagi yang bisa membangkitkan?

( when I have lost my spirit but I try to find my old spirit, old,…old spirit…far away from my eyes but near….to my heart)

Tidak ada komentar: