Senin, 02 Juli 2012
NEBE: THE LOST VILLAGE
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Nun dipelosok negeri Mulang Tiyuh*
Di antara utara dan barat serta melintas timur bumi Ruwa Jurai
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Terhalang rumpun tebu gula dan nanas selai
terhampar ribuan sawit penghasil minyak negeri
terjulang pokok pohon Balam yang di deres selama bertahun masa
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Menujunya harus berlicak tanah merah
Menerjang terjal bahaya
Nebe, ribuan meter dari ibukota Kadipaten Mulang Tiyuh
Jutaan detik diputaran waktu yang tak pernah mati
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Yang enggan didiami rakyat Mulang Tiyuh
Oleh sebab jarak yang terjal
Oleh sebab teknologi yang tak tembus
Oleh sebab tak merasa nyaman
Oleh sebab jiwa yang kerdil
Oleh sebab ilmu yang dangkal
Oleh sebab haus kekuasaan
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Berbusa pemimpin menyuarakan slogan Mulang Tiyuh
Berharap rakyat pulang kampong membangun negeri
Namun Kadipaten yang ramai lebih menggoda
Rakyat bersedia berjejal dan saling menimpa tanggung jawab
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Aparat pembangun masyarakat duduk santai di kursi kadipaten
Kaum cerdik pandai rela memberi segepok rupiah agar tak menyentuh Nebe
Yang miskin, yang masih miliki nurani, terlempar paksa ke Nebe
Atas nama pengabdian pada Negara
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Terseok-seok ingin menghirup udara pembangunan
Menjulur-julur ingin mencicip manis teknologi
Menganga-nganga macam orang kelaparan dan kehausan
Adalah Nebe sebuah Negeri Besar
Menjadi salah satu The Lost Village diantara 14 negeri di Kadipaten Mulang Tiyuh
Menambah daftar panjang The Lost Village di Jamrud Khatulistiwa
Mari Mulang Tiyuh, Mak gham sapa lagi mak ganta kemenda lagi*
Menjelang keberangkatan ke Nebe, 28 Februari 2011
*Slogan Kabupaten Way Kanan, Lampung:
Mulang Tiyuh, Mak gham sapa lagi mak ganta kemenda lagi = Pulang Kampung, Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi
Selasa, 23 November 2010
MENGAPA MENCURI HATIKU
Katanya hatinya berdebar oleh sebab hatiku
Tapi ia duduk disamping dewi nan cantik
Aku berlari tak ingin melepas hatiku
Namun tangannya menjangkauku
Berbisik lesap, jadilah dewiku
Dan ia membanjiriku dengan bunga pancarona
Aku terbuai serupa putri raja yang dininabobo
Pergilah, bisikku kembali
Dewi menanti kepulanganmu
Ia pergi sembari menunjukkan sebongkah hati berdarah
Dalam genggaman tangannya
O, tidak! Ia berhasil mencuri hatiku
O, Dewa cupid
Sring sekali kau salah melempar panah
Ia sudah kau panah sekali, kini kau panah lagi
O, Cupid Torpedo
Tanggung jawablah, ambil hatiku padanya
Jangan biarkan dewi melihatku tak lagi memiliki hati
Atau biarkan saja aku mati tanpa hati
November 2010
-Dessy Ariya Utami-
Hujan slalu mencipta basah
Cinta slalu tak bisa di logika
Takdir tak pernah bisa diterka
O, Tuhan
Desember akan segera tiba
Kabulkan satu saja permintaanku
Sebelum tahun ini berganti
Jumat, 09 April 2010
Surat dari Istana Falkensteiner
Kepada albert
Pertama kali ia membawamu ke Falkensteiner, kepalamu sudah mengeras
Bertahun-tahun ia teteskan embun madu, kepalamu sedikit melunak
Ia pikir kau bisa menjadi Ritter istana Falkensteiner.
Menjaga semua penghuni istana sekuat kemampuanmu
Albert, seperti Mathias kau bukanlah Ritter Gottard seperti yang ia impikan
Kau meninggalkannya dalam duka
Albert, pergilah bawa semua milikimu, jangan sisakan untuk ia ratapi
Langganan:
Postingan (Atom)


