Tidak ada yang sanggup membahas morphology dalam draf novel ilmiahnya. Karena sangat sulit. Ya iyalah, mempelajari word. Akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan, karena tak menemukan referensi yang pas, ada sedikit yang kutemukan di internet, selebihnya menekuni buku teks morphology yang sangat langka dan bahasanya, amboii terlalu inggris baku. Aku sampai sakit gigi memahaminya! Pasalnya aku tak paham. Sebuah awal yang sulit!
Akhirnya pertolongan datang, seorang teman memberikan referensi yang pas banget dengan yang ingin kucari. Referensi itu berasal dari thesis temannya di universitas Gunadarma, Jakarta. (Vey, I luv u so much)
Akhir April kuserahkan draft pertamaku pada Mr. Good. Bagai malam dan siang deh perbedaan Mr. Good dan Mr. Tango! Aku tak lagi merasa mules atau panas dingin jika ingin bimbingan, tak ada bentakan dan tak ada kata-kata kasar. Dan aku hanya menyerahkan draf 3x, pertengahan Mei aku mendapat persetujuan seminar. Tapi Mr. Low belum Acc, ia ingin draft novelku benar-benar menggunakan bahasa akademik. Alhasil aku baru bisa seminar akhir Juni. Dan di seminar itu, tak ada yang berhasil membantaiku, semua bisa kujawab dengan mudah. Entah mengapa aku merasa paham dengan novelku sejak itu. Dan sungguh mengejutkan Mrs. Perfect diajukan untuk menjadi interaterku oleh para lecturer. Namun dijawab dengan canda oleh Mrs. Perfect, jika aku sanggup membayarnya. Hikz..aku manyun!
Oh ya, satu lagi Dr. Sleep (karena ia selalu terlihat mengantuk, layaknya professor difilm2 yang menggunakan kacamata dan kepalanya hampir botak semua, karena kebanyakan belajar) menanyakan mengapa aku menggunakan kata reseacher, bukannya writer dalam draft novel ilmiahku? Waduh seingatku dulu, yang menganjurkan menggunakan kata researcher adalah Mr. Tango! Dasar Tango, menyesatkan! Ternyata researcher digunakan untuk seorang yang sudah ahli dan pekerjaannya memang meneliti, sementara aku kan bukan ahli morphology jadi lebih baik menggunakan writer. Olala, gitu toh?!
Juli, sekolah libur. So aku tak bisa melakukan penelitian. Jadi aku rehat sementara sambil mengurus visa ku di universitas yang hanya bisa diperpanjang sampai bulan desember 2008. Jika aku belum juga selesai, maka aku akan dideportasi!
Agustus is coming… penelitian!
After that, Olah Data!
Aku tak jadi meminta Mrs. Perfect untuk menjadi interaterku, tak sanggup membayarnya. Emang sih aku tidak bertanya berapa bayarannya? Atau mungkin ia mau membantu tanpa dibayar? Aaah imposible, aku tak mungkin bisa melakukan hal itu. Setidaknya aku harus memberinya kompensasi. Memberi sedikit tak enak, memberi banyak ku tak sanggup. Akhirnya kuminta bantuan 2 teman saja untuk menjadi interaterku. Dua? Hehe,..yang nyata. Yang tersembuyi banyak boo… thanks banget tuk Mrs. Lela and Miss.Endang yang bersedia meluangkan waktu selama berminggu2 untuk memelototi 9000 kata yang harus aku teliti. Thanks tuk Mr. Sinchan yang rela istrinya kusibukkan dengan data-dataku. Thanks tuk Miss.Vey, walau jauh di Jakarta kau bersedia jadi interater via sms dan telpon (habis berapa ya bu?) and thanks untuk diriku yang telah berjuang sekuat tenaga. Ciyeeee…
Awal September penyerahan draft hasil!
Berita mengejutkan Mr. Good akan menunaikan rukun islam yang kelima, naik haji ke tanah suci Mekah. Duuuuuuuuh, aku kan lum seminar hasil, belum kompre. Gimana neh? Desember deadline! Mr. Low Profile sibuk mengurus PLPG (sertifikasi untuk guru-guru)
Akhir September Mr. Good memberikan Acc untuk seminar hasil. Tapi aku belum bimbingan dengan Mr. Low Profile! Oktober libur Idul Fitri!
Wow, teman! aku tak tahu lagi jalan mana yang harus ku tempuh. Mendesak Mr. Low Profile untuk mempercepat Acc, itu tidak mungkin berhasil! Walau baik, Mr Low adalah sosok perfectionis and prosedural. Jika ia sedang tak mau diganggu, maka tak ada yang boleh mengganggunya. Akhirnya aku hanya bisa pasrah, berdoa pada Allah, meminta sebuah miracle diturunkan padaku dan tak lupa berusaha untuk selalu bisa menghadap Mr. Low setiap hari di jam-jam sibuknya.
24 september sampai 24 November (hari Form A) kunamakan dengan 60 hari mengejar wisuda!
Senin, 09 Februari 2009
Sabtu, 07 Februari 2009
I get Mr. Good (5)
Allah tahu yang terbaik buat hambaNya. Dan begitu pula yang terjadi padaku. Hari itu aku menumpahkan semua uneg-unegku pada Mr. Low Profile dan iapun ikut berang karena tindakan Mr. Tango. Ia menyetujui bulat-bulat rencana penggantian advisor pertamaku. Dan memberiku langkah-langkah yang harus kutempuh agar bisa mulus menghadap Mrs. Perfect. Beliau juga yang menyarankanku untuk meminta Mr. Good sebagai pengganti Mr. Tango.
Aku terhenyak, Mr. Good adalah orang pertama yang dulu kuminta dan kuajukan serta kuharapkan untuk menjadi advisorku pada awal pengajuan judul novel ilmiahku. Namun saat itu, entah bagaimana para lecturer memutuskan Mr. Tango sebagai advisorku, mungkin karena judul yang lolos adalah mengenai Translation yang notabene adalah bidang Mr. Tango.
Well, keesokkan harinya sesuai saran Mr. Low aku menghadap Mr. Tango kembali, untuk meminta surat mandat penyerahan advisor. Dan tanpa basa-basi serta tanpa senyum, ia membuatkan surat mandat tersebut. Dan bayangkan, ia menyatakan dalam surat itu bahwa aku hanya 2x menghadapnya. Aku protes, aku bilang 2,5 tahun bukan hanya 2x. dan ia bersikeras untuk menulis 2x dan ditambah intensif. Dengan alasan itu, ia bilang aku bisa berargumen telah menghadapnya berkali-kali tapi tidak intensif dan yang intensif hanya 2x. ugh, aku kesal sekali! Tapi aku ingat pesan Mr. Low untuk tidak membuat masalah dengan Mr. Tango, agar tidak dipersulit. Akhirnya aku mengiyakan saja apa yang ingin ditulis Mr. Tango.
Setelah itu aku menghadap Mr. Good, meminta kesediaannya menjadi advisorku. Mr. Good sih oke-oke saja, asal Mrs. Perfect mengizinkan. Hari itu juga, aku menghadap Mrs. Perfect. Dan seperti yang sudah kuduga, Mrs. Perfect tidak mau menerima permintaanku untuk ganti advisor.
“Tidak bisa! Anda harus menjalani prosedur yang sudah diputuskan di rapat. Tidak ada pergantian advisor, kecuali jika mereka studi keluar negeri.”
Tiba-tiba Mr. Low masuk ke ruang Mrs. Perfect, begitu melihatku ia tersenyum lalu bertanya “bagaimana?”
Aku hanya menjawab “sedang dibicarakan, sir”
Lalu beliau beralih ke Mrs. Perfect, dan berbicara sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak peduli.
Begitu mereka selesai bicara, dan Mr. Low sudah keluar, segera kusodorkan surat mandat penyerahan dari Mr. Tango. Entah karena surat itu atau juga karena aku mengembel-embelkan nama Mr. Low sebagai salah satu advisorku yang juga menyetujui penggantian itu, akhirnya Mrs. Perfect menerima untuk mengganti advisorku dan membuat surat keputusannya.
“oke, karena memang Mr. Tango sudah menyerahkan maka mulai hari ini anda sudah tidak dibwah bimbingan beliau lagi”
Akhirnya semua berjalan mulus, tapi dengan terpaksa judulku diganti lagi, bukan dalam cakupan translation lagi tapi harus diubah ke dalam cakupan writing. “An Analysis of Morphological Errors in Students’ Writing at the Second Year of SMU..” Hiks, ini malah tambah susaah fren, karena berdasarkan surface strategy dan communicative effect!hiks, Tapi tak apa-apalah, setidaknya Mr. Good and Mr. Low Profile adalah sahabat.
Oh ya, kali ini aku bercerita pada My academic advisor (PA) dia sampai marah mendengar ceritaku dan berulang kali menyesalkan mengapa tak pernah memberitahunya selama ini. Ia ingin melabrak Mr. Tango, tapi buru-buru kubilang semua masalah sudah selesai dan tidak sepenuhnya kesalahan Mr. Tango, ada juga kesalahanku karena terlalu mempertahankan kajian translation. Dan yang lebih penting agar tidak terjadi perseteruan antara PA ku dengan Mr. Tango. Secara PA ku adalah orang pintar yang kaya, sayangnya ia sudah malas mengajar, tapi semua dosen segan padanya karena ia terlalu pintar, lagipula ia lebih sering pergi ke luar negeri ketimbang berada di universitas.hehe…dasarnya PA ku lebih senang terjun ke politik, ambisinya jadi menteri sih.
Ternyata hikmah dari semua yang kulalui adalah aku kembali mendapatkan Mr. Good, walau dengan proses panjang, melewati 2,5 tahun. Allahu Akbar! Allah Maha Besar dan Maha mengatur segalanya.
Aku terhenyak, Mr. Good adalah orang pertama yang dulu kuminta dan kuajukan serta kuharapkan untuk menjadi advisorku pada awal pengajuan judul novel ilmiahku. Namun saat itu, entah bagaimana para lecturer memutuskan Mr. Tango sebagai advisorku, mungkin karena judul yang lolos adalah mengenai Translation yang notabene adalah bidang Mr. Tango.
Well, keesokkan harinya sesuai saran Mr. Low aku menghadap Mr. Tango kembali, untuk meminta surat mandat penyerahan advisor. Dan tanpa basa-basi serta tanpa senyum, ia membuatkan surat mandat tersebut. Dan bayangkan, ia menyatakan dalam surat itu bahwa aku hanya 2x menghadapnya. Aku protes, aku bilang 2,5 tahun bukan hanya 2x. dan ia bersikeras untuk menulis 2x dan ditambah intensif. Dengan alasan itu, ia bilang aku bisa berargumen telah menghadapnya berkali-kali tapi tidak intensif dan yang intensif hanya 2x. ugh, aku kesal sekali! Tapi aku ingat pesan Mr. Low untuk tidak membuat masalah dengan Mr. Tango, agar tidak dipersulit. Akhirnya aku mengiyakan saja apa yang ingin ditulis Mr. Tango.
Setelah itu aku menghadap Mr. Good, meminta kesediaannya menjadi advisorku. Mr. Good sih oke-oke saja, asal Mrs. Perfect mengizinkan. Hari itu juga, aku menghadap Mrs. Perfect. Dan seperti yang sudah kuduga, Mrs. Perfect tidak mau menerima permintaanku untuk ganti advisor.
“Tidak bisa! Anda harus menjalani prosedur yang sudah diputuskan di rapat. Tidak ada pergantian advisor, kecuali jika mereka studi keluar negeri.”
Tiba-tiba Mr. Low masuk ke ruang Mrs. Perfect, begitu melihatku ia tersenyum lalu bertanya “bagaimana?”
Aku hanya menjawab “sedang dibicarakan, sir”
Lalu beliau beralih ke Mrs. Perfect, dan berbicara sebentar. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak peduli.
Begitu mereka selesai bicara, dan Mr. Low sudah keluar, segera kusodorkan surat mandat penyerahan dari Mr. Tango. Entah karena surat itu atau juga karena aku mengembel-embelkan nama Mr. Low sebagai salah satu advisorku yang juga menyetujui penggantian itu, akhirnya Mrs. Perfect menerima untuk mengganti advisorku dan membuat surat keputusannya.
“oke, karena memang Mr. Tango sudah menyerahkan maka mulai hari ini anda sudah tidak dibwah bimbingan beliau lagi”
Akhirnya semua berjalan mulus, tapi dengan terpaksa judulku diganti lagi, bukan dalam cakupan translation lagi tapi harus diubah ke dalam cakupan writing. “An Analysis of Morphological Errors in Students’ Writing at the Second Year of SMU..” Hiks, ini malah tambah susaah fren, karena berdasarkan surface strategy dan communicative effect!hiks, Tapi tak apa-apalah, setidaknya Mr. Good and Mr. Low Profile adalah sahabat.
Oh ya, kali ini aku bercerita pada My academic advisor (PA) dia sampai marah mendengar ceritaku dan berulang kali menyesalkan mengapa tak pernah memberitahunya selama ini. Ia ingin melabrak Mr. Tango, tapi buru-buru kubilang semua masalah sudah selesai dan tidak sepenuhnya kesalahan Mr. Tango, ada juga kesalahanku karena terlalu mempertahankan kajian translation. Dan yang lebih penting agar tidak terjadi perseteruan antara PA ku dengan Mr. Tango. Secara PA ku adalah orang pintar yang kaya, sayangnya ia sudah malas mengajar, tapi semua dosen segan padanya karena ia terlalu pintar, lagipula ia lebih sering pergi ke luar negeri ketimbang berada di universitas.hehe…dasarnya PA ku lebih senang terjun ke politik, ambisinya jadi menteri sih.
Ternyata hikmah dari semua yang kulalui adalah aku kembali mendapatkan Mr. Good, walau dengan proses panjang, melewati 2,5 tahun. Allahu Akbar! Allah Maha Besar dan Maha mengatur segalanya.
Jumat, 06 Februari 2009
April Mop! (4)
April 2008, aku kembali menghadap Mr. Tango. Dengan Pede kumasuki ruangannya, menenteng lembar approval untuk tanda tangan persetujuannya dan mengambil draft yang tempo hari telah kuserahkan. Wajah Mr. Tango tak ramah, sepertinya ada yang membuatya kesal. Apakah Mr. Smile?bukankah beliau baru saja keluar, setelah bercakap-cakap cukup lama didalam. KAU MASUK PADA SAAT YANG SALAH!batinku meraung
“Sit Down”
“Yes, Sir” jawabku tak tenang, kulihat draft novelku tergeltak diatas meja, penuh dengan coretan garis yang dilukis memanjang.
“open and read it”
Oh my Allah, it’s imposible! Mengapa semua tulisan dalam drafku dicoret dan diberi tanda tanya? Tubuhku panas dingin, alamat aku akan diajak berfilsafat lagi. Duh biung…help me! Ternyata benar fren, aku mulai memasuki arena filsafat. Tapi kali ini aku tak ingin lagi mengalah, aku harus bertahan, aku tak mau lagi ganti judul hanya untuk mengikuti keinginan Mr. Tango yang Crazy!
Diskusi memanas, Ia menyalahkan subjek yang akan kuangkat. Harusnya mahasiswa bukan siswa, dan aku menyanggupi untuk meneliti mahasiswa, namun ia berbalik tidak mengizinkan. Lalu ia mengangkat tema yang selama ini belum pernah diangkatnya, Translation! dan aku yakin aku akan kalah karena semua argumenku disambut dengan bentakan! aku mengejang, jantungku bertalu-talu bagai beduk maghrib yang dipukul. Mr. Tango berang karena kalah argumen denganku. Ia menaikkan kakinya yang bersepatu keatas meja dan menggoyang-goyangkannya, tepat didepan tempat dudukku, lalu menyambar sebuah pisang goreng, mengunyahnya dengan lahap dan menyeruput kopi hangatnya. Aku ingin meneteskan air mata, aku tahu jika Mr. Tango sudah mengeluarkan gejala ini maka ia akan mengeluarkan jurus ampuhnya.
“Kamu ganti advisor saja, cari yang bisa se ide dengan kamu!”
Blaaaar!!! Unbelievable!
‘What sir? What do you mean? mengg..ganti anda dengan yang lain?”
“Yeah, kompromikan dengan Mr. Low Profile”
”But sir, you said that u will approve me to seminar?”
“I don’t like your title, translation is so hard and no specific!”
kugigit bibirku keras-keras, berusaha menguatkan diri dan menahan air mata agar tidak luruh kepipi. “Baiklah Sir, akan saya kompromikan. Jika beliau setuju maka saya akan memberitahu anda”
ada kilat kaget dimata Mr. Tango ketika mendengar jawabanku, mungkin ia pikir aku akan menghibanya, maka ia menggertakku dengan ancaman tadi. Ia salah aku memang terluka dengan peluru yang dilontarkannya, tapi aku senang karena ini akan menjadi akhir peperangan kami dan tiba-tiba ia melemah “atau kamu tidak perlu ganti advisor, begini saja kamu teliti kemampuan bahasa inggris mahasiswa semester 1-2 di universitas ini. Saya yakin hasilnya akan spektakuler”
Tidaak!! batinku meronta, itu usul yang sangat mematikan langkahku. Bayangkan aku harus meneliti semua mahasiswa semester 1-2 di universitas ini, dari 7 fakultas dan berpuluh-puluh jurusan dan dengan kepastian yang nyaris nol. Karena bisa jadi jika mood Mr. Tango sedang buruk (moodnya selalu buruk) aku akan diminta mengganti judul lagi. Bukankah baru saja ia tidak menyetujuiku unutk meneliti mahasiswa? Ucapannya benar-benar tak bisa dipegang! Pliz deh, mau jadi mahasiswi abadi? NO!
“No, Sir! I’m sorry, I don’t have time to make a new research. I choose to change my advisor. Thanks.” Ucapku emosi, plus sesak dengan air mata. Ini benar-benar April MOP! Kalian tidak akan pernah membayangkan bagaimana rasanya berada berjam-jam di ruangan Mr. Tango, bagaikan berada dalam situasi perang yang selalu penuh dengan desing peluru. Siap-siap mati ditempat jika jantungmu tak kuat.
Dan hari itu dengan berlinang air mata aku menunggu Mr. Low Profile, berharap menumpahkan kesah dan minta pertolongannya kembali. Aku benar-benar menjadi cewek mellow hari itu, menangis sampai mataku bengkak. Aku menyesali waktu yang terbuang selama 2.5 tahun hanya untuk menggarap hal yang tak pasti, dan ngeri dengan jalan yang ada didepanku. Aku harus mengajukan izin perpanjangan tinggal diuniversitas ini, karena masa mukimku hampir habis. Ku rutuk Mr. Tango tanpa henti. Suatu saat aku harus bisa membalas semua ini. Ia sengaja mengombang-ambingkanku sekian tahun hanya karena aku Moslem!
“Sit Down”
“Yes, Sir” jawabku tak tenang, kulihat draft novelku tergeltak diatas meja, penuh dengan coretan garis yang dilukis memanjang.
“open and read it”
Oh my Allah, it’s imposible! Mengapa semua tulisan dalam drafku dicoret dan diberi tanda tanya? Tubuhku panas dingin, alamat aku akan diajak berfilsafat lagi. Duh biung…help me! Ternyata benar fren, aku mulai memasuki arena filsafat. Tapi kali ini aku tak ingin lagi mengalah, aku harus bertahan, aku tak mau lagi ganti judul hanya untuk mengikuti keinginan Mr. Tango yang Crazy!
Diskusi memanas, Ia menyalahkan subjek yang akan kuangkat. Harusnya mahasiswa bukan siswa, dan aku menyanggupi untuk meneliti mahasiswa, namun ia berbalik tidak mengizinkan. Lalu ia mengangkat tema yang selama ini belum pernah diangkatnya, Translation! dan aku yakin aku akan kalah karena semua argumenku disambut dengan bentakan! aku mengejang, jantungku bertalu-talu bagai beduk maghrib yang dipukul. Mr. Tango berang karena kalah argumen denganku. Ia menaikkan kakinya yang bersepatu keatas meja dan menggoyang-goyangkannya, tepat didepan tempat dudukku, lalu menyambar sebuah pisang goreng, mengunyahnya dengan lahap dan menyeruput kopi hangatnya. Aku ingin meneteskan air mata, aku tahu jika Mr. Tango sudah mengeluarkan gejala ini maka ia akan mengeluarkan jurus ampuhnya.
“Kamu ganti advisor saja, cari yang bisa se ide dengan kamu!”
Blaaaar!!! Unbelievable!
‘What sir? What do you mean? mengg..ganti anda dengan yang lain?”
“Yeah, kompromikan dengan Mr. Low Profile”
”But sir, you said that u will approve me to seminar?”
“I don’t like your title, translation is so hard and no specific!”
kugigit bibirku keras-keras, berusaha menguatkan diri dan menahan air mata agar tidak luruh kepipi. “Baiklah Sir, akan saya kompromikan. Jika beliau setuju maka saya akan memberitahu anda”
ada kilat kaget dimata Mr. Tango ketika mendengar jawabanku, mungkin ia pikir aku akan menghibanya, maka ia menggertakku dengan ancaman tadi. Ia salah aku memang terluka dengan peluru yang dilontarkannya, tapi aku senang karena ini akan menjadi akhir peperangan kami dan tiba-tiba ia melemah “atau kamu tidak perlu ganti advisor, begini saja kamu teliti kemampuan bahasa inggris mahasiswa semester 1-2 di universitas ini. Saya yakin hasilnya akan spektakuler”
Tidaak!! batinku meronta, itu usul yang sangat mematikan langkahku. Bayangkan aku harus meneliti semua mahasiswa semester 1-2 di universitas ini, dari 7 fakultas dan berpuluh-puluh jurusan dan dengan kepastian yang nyaris nol. Karena bisa jadi jika mood Mr. Tango sedang buruk (moodnya selalu buruk) aku akan diminta mengganti judul lagi. Bukankah baru saja ia tidak menyetujuiku unutk meneliti mahasiswa? Ucapannya benar-benar tak bisa dipegang! Pliz deh, mau jadi mahasiswi abadi? NO!
“No, Sir! I’m sorry, I don’t have time to make a new research. I choose to change my advisor. Thanks.” Ucapku emosi, plus sesak dengan air mata. Ini benar-benar April MOP! Kalian tidak akan pernah membayangkan bagaimana rasanya berada berjam-jam di ruangan Mr. Tango, bagaikan berada dalam situasi perang yang selalu penuh dengan desing peluru. Siap-siap mati ditempat jika jantungmu tak kuat.
Dan hari itu dengan berlinang air mata aku menunggu Mr. Low Profile, berharap menumpahkan kesah dan minta pertolongannya kembali. Aku benar-benar menjadi cewek mellow hari itu, menangis sampai mataku bengkak. Aku menyesali waktu yang terbuang selama 2.5 tahun hanya untuk menggarap hal yang tak pasti, dan ngeri dengan jalan yang ada didepanku. Aku harus mengajukan izin perpanjangan tinggal diuniversitas ini, karena masa mukimku hampir habis. Ku rutuk Mr. Tango tanpa henti. Suatu saat aku harus bisa membalas semua ini. Ia sengaja mengombang-ambingkanku sekian tahun hanya karena aku Moslem!
Langganan:
Postingan (Atom)